Hanya saja manusia selalu memiliki pilihan dalam kehidupan
mereka, kalaupun kelihatannya tak ada jalan yang real dalam memilih. manusia
tetap dalam keadaan memilih antara tetap maju hadapi masalah, mnerima kekalahan
dan sekedar mendapat teguran tuhan atau mundur dengan penyesalan dan berargumen
dengan alasan tentang ketidak beraniannya maju kala itu.
Aku pernah memilih pilihan kedua dalam penentuan masalah
yang ku alami, memilih lepas senjata sebelum naik kendaraan menuju lahan
pertempuran. Tentunya aku harus menerima kekalahan atau lebih tepatnya memilih
untuk menerima konsekwensi ketika satu pilihan yang ku ambil adalah kesalahan
fatal dengan beribu argumen yang ku debatkan pada diriku sendiri. Dan pilihan
itu setidaknya mengarahkanku pada jalan jalan lain. Hingga aku sadar kita tak
akan pernah sampai pada titik dmana kita merasa diri kita hebat dengan hanya
memilih untuk berlari.
Sampai suatu hari..
Ketika aku dihadapkan dalam kesiapanku untuk memilih pilihan
pertama (atau mungkin lebih tepatnya memberanikan memilih) aku gagal. Tapi
disisi lain, aku tak merasa menyesal dalam kegagalan bahkan dapat uraikan
sedikit senyum dengan kegagalanku. Sadar hal ini telah memberiku pelajaran
dalam kehidupan, aku memutuskan tak pernah mundur lagi.
Tapi....
Aku terlalu sering mengalami kegagalan. Benarkah? Yha..
kenapa? Aku bahkan tak pernah berfikir kenapa.. sekarang malah kau tanya
tentang kenapa Dapat gagal.. yang ada dalam fikiranku hanyalah aku gagal dan
akan kembali mencoba.
Kau salah.. kenapa tak kau fikirkan bagaimana kau bisa
gagal, alasan apa, mengapa hingga bagaimana kau menanggapi kegagalan tersebut.
Aku terdiam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar